Kamis, 31 Mei 2012

Hasil Survey Kuesioner Mengenai Blended Learning



Untuk memenuhi tugas Psikologi Pendidikan dalam pembuatan kuesioner yang mengharuskan para peserta didik untuk membuat sebuah survey mengenai Mata Kuliah Psikologi Pendidikan, saya akan mendeskripsikan hasil survey yang telah dipenuhi oleh 62 responden dari Mahasiswa Angkatan 2011.
Adapun topik yang saya ambil dari survey ini adalah “Wawasan Blended Learning”. Dengan tujuan ingin mengetahui sejauh mana sih Blended Learning itu dapat diterima dan difungsikan secara baik oleh temen-temen Mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2011
Berikut ini daftar pertanyaan beserta jawaban dalam bentuk persentase dari pada responde. Check it out! J
1.       Saya memiliki perangkat PC/Laptop/Tablet sendiri.
Presentase
Jumlah Responden
Ya
96.72%
59
Tidak
3.28%
2

2.       Saya memiliki modem di rumah atau dapat dibawa-bawa.
Presentase
Jumlah Responden
Ya
86.89%
53
Tidak
13.11%
8

3.       Saya memiliki Smartphone (Blackberry, Android, iPhone).
Presentase
Jumlah Responden
Ya
62.30%
38
Tidak
37.70%
23

PERTANYAAN INTI
1.       Saya pernah menggunakan metode Blended Learning sebelumnya.
 Sangat setuju 
 4 
 6.35% 
 Setuju 
 22 
 34.92% 
 Netral 
 11 
 17.46% 
 Tidak Setuju 
 25 
 39.68% 
 Sangat Tidak Setuju 
 1 
 1.59% 



2. Blended Learning membantu saya dalam memahami materi kuliah.
Sangat Setuju
1
1.61%
Setuju
28
45.16%
Netral
27
43.55%
Tidak Setuju
6
9.68%
Sangat Tidak Setuju
0
0.00%
         
  
3. Saya lebih bisa mengeluarkan pendapat ketika berdiskusi saat Blended Learning berlangsung.
 Sangat Setuju 
 5 
 8.20% 
 Setuju 
 28 
 45.90% 
 Netral 
 18 
 29.51% 
 Tidak setuju 
 10 
 16.39% 
 Sangat Tidak Setuju 
 0 
 0.00% 

4.       Saya suka dengan metode belajar Blended Learning, tapi jaringan wifi susah. Sehingga Blended Learning terhambat.
 Sangat Setuju 
 14 
 22.95% 
 Setuju 
 38 
 62.30% 
 Netral 
 8 
 13.11% 
 Tidak Setuju 
 1 
 1.64% 
 Sangat Tidak Setuju 
 0 
 0.00% 

5.       Saya adalah pengakses media sosial khususnya chatting (seperti g-talk, ym, dll).
 Sangat Setuju 
 14 
 22.95% 
 Setuju 
 38 
 62.30% 
 Netral 
 8 
 13.11% 
 Tidak Setuju 
 1 
 1.64% 
 Sangat Tidak Setuju 
 0 
 0.00% 

Deskripsi:
      Berdasarkan hasil survey yang dilakukan terhadap 62 responden, para peserta rata-rata memiliki laptop/pc/tablet sendiri dengan difasilitasi modem yang dapat dibawa-bawa ataupun modem yang hanya dapat dipakai di rumah. Selain itu, kebanyakan dari mereka juga memiliki smarthphone yang memiliki fasilitas chatting ataupun online seperti blackberry, android maupun iPhone.
      Dari 62 responden pengisi kuesioner, ditemukan bahwa terdapat 41.27 % memiliki kecenderungan belum pernah menggunakan Blended Learning sebelumnya, 41.72% malah sudah pernah menggunakan metode Blended Learning sebelumnya. Sisanya, bimbang apakah pernah apa belum L.
      Secara keseluruhan Blended learning adalah metode yang pas digunakan untuk memahami materi belajar kuliah keseluruhan. Ditambah, berdasarkan hasil survey yang saya temui, bahwa para responden dapat dengan luwes untuk menyampaikan pendapat mereka mengenai sebuah materi. Ditambah, terdapat dominasi responden yang memiliki kecenderungan untuk memakai fasilitas chatting, yang notabene juga merupakan metode yang dipakai dalamproses belajar Blended Learning.
Hanya saja, fasilitas wifi di kampus terkadang suka labil. Jadi terdapat kesusahan koneksi, sehingga susah sekali mengakses internet. Sehingga Blended Learning pun terhambat.

Testimoni :

Adapun testimoni saya dalam pembuatan kwiksurvey mengenai Blended Learning ini adalah awalnya saya merasa kesusahan dalam mencari ide mengenai pertanyaan-pertanyaan apa yang akan saya sajikan dan responden dalam pengisian kuesioner secara online ini. Namun, setelah dijalani, terdapat banyak kemudahan dan pastinya pengalaman yang saya dapatkan. Ditambah teman-teman Psikologi 2011 yang sangat kooperatif. Dan aku padamu, psychotroops 11 :* 

Dan yang paling utama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada ibu dosen pengampu  yang telah memberikan banyak 'shock therapy' kepada saya khususnya, mulai dari pembuatan blog, tugas mini proyek sampai pembuatan kuesioner online sehingga banyak sekali pengalaman baru yang saya dapatkan pada mata kuliah ini.

Demikian testimoni saya. Lebih tepatnya curahan hati saya. Sampai jumpa di postingan berikutnya :) 

Minggu, 13 Mei 2012

Blended Learning


Berikut ini adalah kesimpulan dari pembelajaran Blended Learning yang telah dilakukan dalam Mata Kuliah Psikologi Pendidikan.
Mungkin sebelumnya saya akan membahas mengenai, apasih itu blended learning. Blended learning adalah metode pembelajaran yang memadukan pertemuan tatap muka dengan materi online secara harmonis. Perpaduan antara training konvensional di mana yang diajar (siswa/mahasiswa) dan pengajar (guru/dosen) bertemu langsung dengan training online yang bisa diakses kapan saja, di mana saja 24 jam sehari, 7 hari seminggu.
Layaknya sebuah mesin blender yang mencampurkan seluruh buah-buahan, air dan gula untuk menghasilkan sebuah juice yang lezat, begitupun dengan blended learning yang mencampurkan dua metode belajar yang disatukan untuk mengoptimalkan hasil yang memuaskan.
Adapun dalam blended learning ini terdapat dampak positif dan negatif, yaitu:
(+)  Melalui media chatting (g-talk), blended learning ini berkembang dan mengubah-fungsi g-talk (bagi saya pribadi) yang awalnya hanya digunakan sebagai social network
(+) Kita dapat dengan leluasa mengakses informasi melaui media internet dan berdiskusi dengan rekan kapanpun dan dimanapun.
(-)  Masih terdapat rekan yang belum memiliki PC yang dapat dibawa-bawa. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi para penanggung jawab negara dalam bidang pendidikan dan teknologi, untuk dapat memaksimalkan serta mempermudah distribusi perangkat teknologi bagi para pelajar. Contoh konkretnya adalah, memperbanyak bazar laptop atau tab murah bagi pelajar J
Nah, setelah saya melakukan blended learning dengan rekan sekelompok saya, terdapat kesan yang ditoreh didalamnya, yaitu:
1.    Awalnya sih merasa aneh dengan blended learning. Gimana engga, kita disuruh dateng ke kampus tapi sistem belajarnya online. Sempat berpikir mau online dirumah aja, tapi diurungkan.
2.    Setelah sampai di kelas, saya melihat teman-teman pada ngenulis alamat g-talk nya buat di-invite. Nah, disini saya ikutan menulis alamat g-talk dan mulai tertarik ketika meng-invite alamat temen-temen satu-satu. Kayak ada sensasi tersendiri gitu.
3.    Waktu mulai blended learning di room-chat dengan dua temen saya, yaitu Nurul dan Yan mulai kerasa enaknya. Obrolan paling penting yang kami lakukan J saling berargumentasi hingga mendapatkan titik terang dari persoalan yang kami perbincangkan.
4.    Intinya saya mendapatkan pengalaman baru yang menyenangkan dari blended learning. Berawal dari saya ogah-ogahan untuk melakukan hal ini, hingga saya mendapatkan pembelajaran yang luar biasa dari blended learning ini.
Untuk itu ucapan terima kasih saya dedikasikan kepada dosen pengampu Mata Kuliah Psikologi Pendidikan, Ibu Filia Dina Anggaraeni, M.Pd. Kedua rekan diskusi saya Nurul Fadillah Siregar dan Yan Adelaila Rambe. Bang Ariansyah yang sudah membantu serta teman-teman, khususnya anak ganjil J
Demikianlah postingan saya mengenai Blended learning, sampai jumpa di postingan berikutnya. Selamat malam J

Referensi
http://www.muhammadnoer.com/2010/07/blended-learning-mengubah-cara-kita-belajar-di-masa-depan/

Jumat, 04 Mei 2012

Anak Berkebutuhan Khusus (Slow Learner)





 untuk Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain:  tunanetra, tunarungu,  tuna-grahita, tunadaksatunalaraskesulitan belajargangguan perilakuanak berbakat, anak de-ngan gangguan kesehatan. Istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat ataupun Slow Learner. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Anak berkebutuan khusus biasanya bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) sesuai dengan kekhususannya masing-masing. SLB bagian A untuk tunanetra, SLB bagian B untuk tunarungu, SLB bagian C untuk tunagrahita, SLB bagian D untuk tunadaksa, SLB bagian E untuk tunalaras dan SLB bagian G untuk cacat ganda.
Kebanyakan anak SL mengalami kesulitan belajar, sehingga butuh sekolah khusus yang fokus menanganinya. Terapi, konsultasi dokter, dan psikolog merupakan cara penanganan yang tepat. Jika telah berbiasa dan mampu mengejar ketinggalan, mereka dapat mengikuti proses belajar di sekolah umum. “GH  tidak hanya mendidik, tetapi juga memberikan terapi dan mengajarkan mereka untuk bersosialisasi,” ungkap ibu tiga putra ini. Berkebutuhan khusus bukan berarti tidak bersosialisasi.
Anak dengan bawaan SL memiliki ciri fisik normal. Tapi saat di sekolah, mereka sulit menangkap materi, responnya lambat, dan kosa kata juga kurang. Sehingga, saat diajak berbicara, kurang jelas maksudnya atau sulit nyambung. Bila dipaksa dan ditekan untuk belajar, mereka akan menjadi putus asa. Di GH, anak-anak tersebut diajak menyesuaikan diri dengan lingkungan ‘normal’.
Saat berada pada kondisi putus asa, anak SL mudah menerima pengaruh negatif. “Salah satu anak didik kami, merasa tersisihkan begitu bekerja di lingkungan normal. Lingkungan memaksa mereka harus menyesuaikan diri. Dalam dunia kerja tidak ada kata toleransi bagi anak SL,” jelasnya.
Dalam rangka menghindari banyaknya tekanan, yang terbaik adalah orang tua si  anak SL memiliki suatu usaha sendiri. Sehingga, saat anak sudah tidak bersekolah, maka mereka dapat bekerja tanpa mendapat tekanan. Anak SL lebih mudah diajari keterampilan bekerja daripada menghafal materi sekolah. Dalam hal akademik, anak SL memang punya kekurangan. Tapi untuk bersosialisasi mereka sama dengan anak normal. 
pendapat mereka mengenai sebuah materi. Ditambah, terdapat dominasi responden yang memiliki kecenderungan untuk memakai fasilitas chatting, yang notabene juga merupakan metode yang dipakai dalamproses belajar Blended Learning.





Cara Menangani Anak Berkebutuhan Khusus (Slow Learner)

Dari ciri-ciri tersebut anak Slow Learner harus diperlakukan beda dengan anak-anak normal lainnya. Memang jika diperhatikan secara sekilas anak slowlearner dalam segi fisik tidak ada perbedaan dengan anak normal, akan tetapi dalam segi psikis lah dapat diketahui dengan pasti bahwa mereka slowlearner atau setelah diadakan tes kecerdasan, dan setelah diketahui tingkat kecerdasannya maka guru harus dapat menentukan langkah-langkah yang akan ditempuh selanjutnya.

Bila anak slowlearner kesulitan dalam belajar atau kesulitan dalam menerima materi pembelajaran yang disampaikan guru, maka untuk mngatasi hal tersebut guru harus berusaha agar materi pembelajaran mudah diserap dan diingat oleh anak slowlearner, untuk itu sekolah dapat menyediakan media pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak slowlearner
       Anak Slowlearner  berbeda dengan anak debil baik dari segi fisiknya maupun psikis, oleh karena itu kemampuannyapun juga berbeda bila anak debil tidak dapat menyelesaikan pendidikannya sampai sekolah dasar maka anak slowlearner ini masih dapat menyelesaikan pendidikannya pada sekolah dasar bila dapat pelayanan yang sesuai. Apabila keluarga, guru dan masyarakat sudah mengetahui dan menyadari kemampuan anak dan juga berusaha membimbingnya maka anak tidak akan pesimis dan timbul rasa percaya diri, yang akhirnya bergaul dengan masyarakat tidak malu.
Dalam pendidikan di sekolah, bila anak ini dicampur dengan anak normal dan tanpa pelayanan tambahan dari pihak sekolah maka akan merugikan diri anak, akibatnya anak akan selalu ketinggalan dalam memahami semua pelajaran. Untuk itu perlakuan khusus pada anak-anak seperti ini harus diberikan pelajaran tambahan dengan metode yang kongkrit seperti melihat gambar, video ataupun peragaan. Karena media-media seperti inilah yang akan menjembatani pemahaman mereka terhadap pelajaran yang diberikan sebagai contoh :
Bila guru menjelaskan materi pelajaran yang sulit diterima oleh siswa maka guru tersebut harus mengulang berkali-kali, dan hal ini akan mengakibatkan tidak tercapainya target pembelajaran. Jika guru mengerti bahwa diantara siswa tersebut ada siswa slowlearner maka guru akan mencari metode yang tidak mengganggu anak normal lainnya seperti menggunakan media gambar atau video ataupun dapat dibantu dengan menunjukkan model yang baik.
Hal ini sesuai dengan definisi prestasi belajar sebagai kemampuan seseorang untuk mencapai pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman belajar yang di kemukakan oleh Sumadi Suryabrata(1983:30).
Untuk itu diharapkan guru dapat mengoptimalkan media pembelajaran yang ada disekolah agar dapat memperlakukan siswa slowlearner secara baik dan benar.

Sumber